Rabu, 25 Agustus 2010

Jurnal Penelitian

Judul tesis:
“Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri Siswa Kelas VIII MTsN Plandi Jombang “

Oleh: Erviningsih Setyorini
Guru MTsN Plandi Jombang
Jl. Prof. Moch Yamin 56 Jombang Jawa Timur
(0321)863289, (0321)3863990, 081216408098


Email:
r.setyo77@yahoo.co.id
Lulus ujian tesis 4 Agustus 2010 di Program S-2 Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Pembimbing: Prof. Dr. I Nyoman Sudan Degeng, M.Pd, dan Dr. Nurmida Catherine Sitompul. S.Hut., M.Pd.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran Group Investigation (GI) dan Student Team Achievement Division (STAD) dan gaya be-lajar siswa (auditori, visual dan kinestetik) terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri siswa kelas VIII MTsN Plandi Jombang. Dalam hal ini peneliti ingin me-ngetahui: (1) Apakah ada perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran GI dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran STAD? (2) Apakah ada perbedaaan kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga pada siswa ya-ng memiliki gaya belajar berbeda.? (3) Apakah ada interaksi antara metode pem-belajaran yang digunakan dengan gaya belajar siswa terhadap kemampuan peme-cahan masalah geometri dimensi tiga?

Peneliti menggunakan metode angket jenis gaya belajar siswa untuk mengetahui siswa yang memiliki jenis gaya belajar auditori, visual dan kinestetik. Sedangkan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pemecahan masalah setelah pem-belajaran Group Investigation (GI) dan Student Team Achievement Division (STAD) peneliti menggunakan metode tes kemampuan pemecahan masalah. Tes kemampuan pemecahan masalah dilakukan tiga kali pada masing-masing kelom-pok setelah pembelajaran geometri pada masing-masing kompetensi dasar. Pene-litian ini dilaksanakan di MTsN Plandi Jombang pada tanggal 10 maret 2010 sam-pai 29 Mei 2010, dengan metode eksperimen, dengan desain factorial 2x3 yang menggunakan teknik ANAVA dua jalur. Sampel berjumlah 60 siswa, 30 siswa se-bagai kelompok eksperimen metode pembelajaran Group Investigation (GI) dan 30 siswa lagi sebagai kelompok control menggunakan metode pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Masing-masing kelompok terdiri dari 10 siswa memiliki jenis gaya belajar auditori, 10 siswa memiliki jenis gaya be-lajar visual dan 10 siswa memiliki jenis gaya belajar kinestetik.

Dari hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan: 1) ada perbedaan kemampuan sis-wa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran GI dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran STAD. (2) ada perbedaaan kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi ti-ga pada siswa yang memiliki gaya belajar berbeda. (3) ada interaksi antara metode pem-belajaran yang digunakan dengan gaya belajar siswa terhadap kemampuan peme-cahan masalah geometri dimensi tiga.

Kata kunci: metode, gaya belajar, pemecahan masalah geometri

PENDAHULUAN
Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan teman-teman guru yang mengajar matematika di MTsN Plandi Jombang dan teman-teman MGMP (Musyawara Gu-ru Mata Pelajaran) matematika sekabupaten Jombang, terdapat gambaran bahwa pembelajaran matematika sampai saat ini belum seperti yang diharapkan, dalam arti bahwa masih banyak siswa siswi yang mengeluh tentang sulitnya belajar ma-tematika. Siswa sering menunjukan rasa kurang tertarik dan merasa bosan ketika belajar matematika. Kenyataan dilapangan bahwa pengajaran matematika cende-rung menekankan ketrampilan mengerjakan soal-soal, sedangkan penanaman kon-sepnya hanya diberikan dalam waktu yang sangat singkat sehingga seringkali sis-wa siswi melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal. Kesalahan ini pada umumnya terletak pada penggunaan rumus-rumus, pemahaman atau kemampuan mencerna bahasa matematika dan mengaplikasikan konsep.

Geometri merupakan salah satu pokok bahasan matematika di sekolah. Dalam geometri dibahas objek-objek yang berhubungan dengan bidang dan ruang. Geo-metri dianggap penting untuk dipelajari karena di samping geometri menonjol pa-da struktur yang berpola deduktif, geometri juga menonjol pada teknik-teknik geometris yang efektif dalam membantu penyelesaian masalah dari banyak cabang matematika serta menunjang pembelajaran mata pelajaran lain. Pembelaja-ran geometri hendaknya difokuskan pada penyelidikan dan pemanfaatan ide-ide, sifat-sifat, dan hubungan antara bangun-bangun geometri, bukan pada kegiatan mengingat definisi dan rumus-rumus. Kenyataan di lapangan, menunjukkan bah-wa pembelajaran geometri di sekolah khususnya di SLTP/MTs masih mempriha-tinkan. Dalam mempelajari geometri, anak perlu menyelidiki, melakukan ekspe-rimen, dan mengeksplorasi objek-objek dan benda-benda fisik lainnya dalam ke-hidupan sehari-hari. Latihan-latihan atau tugas yang menuntut siswa untuk mem-visualisasikan, menggambarkan, dan membandingkan bentuk-bentuk dalam ber-bagai posisi, akan dapat membantu dirinya untuk memahami ruang geometris. (
http://educare.efkipunla.net/index. )

Kondisi atau kecenderungan pembelajaran yang demikian, dapat berpengaruh ter-hadap rendahnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika. Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah, sangat tergantung kepada guru se-bagai pembimbing yang harus bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang baik. Upaya-upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah khususnya geometri dimensi tiga di antaranya adalah menggunakan metode pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan gaya belajar siswa.

Metode pembelajaran yang diduga dapat meningkatkan aktivitas siswa, kemam-puan kerjasama antar siswa yang heterogen yaitu metode pembelajaran Cooperatif Learning. Dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok, model belajar ini dapat membantu siswa mampu menerima siswa lain yang berkemampuan dan berlatarbelakang berbeda. (Suherman, dkk., 2003:259). Dalam Cooperative Learning, metode Group Invstigation (GI) dan Student Team Achievement Division (STAD) adalah tipe belajar yang dianggap sesuai untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga.

Metode pembelajaran GI adalah pembelajaran yang menuntut siswa bekerja dalam kelompok, dengan menggunakan inquiri cooperative (pembelajaran ko-operatif yang bercirikan penemuan), penyelidikan dan penyelesaian masalah me-lalui diskusi kelompok, perencanaan, serta proyek kooperatif. Guru dalam hal ini berfungsi sebagai fasilisator, membantu para siswa menemukan informa-si, dan mengelola terjadinya berbagai interaksi dan aktivitas belajar (Ibrahim et al. 2000). Sedangkan metode Student Team Achievement Division (STAD) adalah guru menyampaikan suatu materi, kemudian para siswa bergabung da-lam kelompoknya yang terdiri atas empat atau lima orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka menyerahkan peker-jaannya secara tunggal untuk setiap kelompok kepada guru. Metode pembelaja-ran Student Team Achievement Division (STAD) menjadi pilihan alternative ya-ng memiliki kesamaan bahwa menekankan pada kelompok sebagai sarana utama.

Gaya belajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam belajar, karena dengan mengetahui dan memahami gaya belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Namun gaya belajar siswa sering tidak/kurang diperhatikan oleh guru ataupun sis-wa. Padahal gaya belajar adalah penting baik bagi guru ataupun siswa. Dengan mengetahui gaya belajar para siswa mereka, guru dapat memilih dan mengguna-kan metode pembelajaran yang tepat dan menciptakan komunikasi yang efektif antara guru dan siswa, sehingga hasil belajar siswa akan meningkat. Terdapat tiga tipe gaya belajar yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu visual (cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat), auditorial (belajar melalui apa yang mere-ka dengar) dan kinestetik (belajar melalui gerak dan sentuhan). Mengajak anak belajar dengan kekuatannya sendiri, sembari lambat laun juga mengasah modali-tas anak yang lain sehingga anak tidak hanya tergantung pada satu modalitas, me-lainkan bisa juga beradaptasi dengan cara belajar yang lain.
(www.member.shaw.com,2004).

Berdasarkan latar belakang diatas maka perlu diadakan penelitian “Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran dan Gaya Belajar Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri Siswa Kelas VIII MTsN Plandi Jombang “

METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilaksanakan merupakan suatu studi eksperimen terhadap suatu model pembelajaran. Subjek penelitian ialah 190 siswa. Desain penelitian yang peneliti gunakan adalah desain penelitian factorial 2x3, dengan mengguna-kan ANAVA dua jalur.

Tabel 3.1 Desain Penelitian factorial 2x3
Metode (M)
Gaya
Belajar (B)

Method Pembelajaran GI


Method Pembelajaran STAD
Auditori (A)
(A,GI)
(A,STAD)
Visual (V)
(V,GI)
(V,STAD)
Kinestetik (K)
(K,GI)
(K,STAD)


HASIL PENELITIAN
A. Hasil Angket Jenis Gaya Belajar
Dalam pengambilan angket jenis gaya belajar siswa yang dilaksanakan tanggal 27 Februari 2010 dan 1 Maret 2010 diperoleh jenis gaya belajar sebagai berikut:
Berdasarkan hasil angket dari populasi penelitian diatas diperoleh rincian dari 190 siswa terdapat 101 siswa dengan jenis gaya belajar auditori, 66 siswa de-ngan jenis gaya belajar visual, 23 siswa dengan jenis gaya belajar kinestetik. Apa-bila dibuat prosentase berarti 53,2% siswa dengan jenis gaya belajar auditori, 34,7% siswa dengan jenis gaya belajar visual, 12,1% siswa dengan jenis gaya be-lajar kinestetik. Berdasarkan tes angket, kelompok esperimen yang menggunakan metode GI diperoleh 30 siswa dan kelompok control yang menggunakan metode STAD diperoleh 30 siswa. Masing-masing kelompok terdiri 10 siwa dengan jenis gaya belajar Auditori, 10 siwa dengan jenis gaya belajar visual, dan 10 siwa dengan jenis gaya belajar Kinestetik.

B. Hasil Tes Kemampuan Pemecahan Masalah
Berdasarkan hasil tes siswa pembelajaran kompetensi dasar satu (KD1) dengan indikator materi bahwa peserta didik diharapkan mampu memahami sifat-sifat kubus, balok, limas dan prisma serta bagian-bagiannya. Indikator materi tercapai jika peserta didik mendapat nilai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal 60. Untuk metode pembelajaran Group Invesigation (GI) terdapat 11 siswa yang belum tuntas, sedangkan hasil tes siwa yang menggunakan metode pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) terdapat 18 siswa. Berdasarkan hasil tes siswa pembelajaran kompetensi dasar dua (KD2) dengan indikator materi bahwa peserta didik mampu menentukan jaring-jaring kubus, balok, limas dan prisma serta membuatnya. Untuk metode pembelajaran GI semua siswa tuntas, sedangkan hasil tes siswa yang menggunakan metode pembelajaran STAD terdapat 1 siswa yang belum tuntas. Berdasarkan hasil tes siswa pembelajaran kompetensi dasar tiga (KD3) dengan indikator materi bahwa peserta didik mampu menghitung luas permukaan kubus, balok, limas dan prisma dan menghitung volume kubus, balok, limas dan prisma. Untuk metode pembelajaran GI ataupun siswa yang menggunakan metode pembelajaran STAD semua siswa tuntas. Hal ini menunjukan ada peningkatan hasil belajar siswa. Namun untuk analisis peneliti menggunakan hasil tes awal untuk mendapatkan keva-litan penelitian. Sedangkan siswa yang belum tuntas akan dituntaskan terlebih dulu sebagai persyaratan pembelajaran selanjutnya.

Analisis dilakukan dengn uji ANAVA, namun terlebih dulu melakukan uji persyaratan yang meliputi uji Normalitas data dan uji Homogenitas data. Hasil pene-litian dari KD1, KD2, KD3, dan gabungan (KD1,KD2,KD3) dengan mengguna-kan SPSS versi 16.0 maka diperoleh:
a. Dari uji normalitas dengan menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov KD1 diperoleh p = 0.098 ( p > 0.05), KD2 diperoleh p = 0.099 ( p > 0.05), dan KD3 diperoleh p = 0.134 ( p > 0.05). Sedangkan gabungan Kompetensi Dasar diperoleh p = 0.689 ( p > 0.05). Dengan demikian dapat kita lihat bah-wa data sample berasal dari populasi yang berdistribusi normal, baik data siswa kelompok metode yang berbeda ataupun jenis gaya belajar yang berbeda.
b. Dari uji homogenitas dengan uji levene’s Test KD1 diperoleh p = 0.352 ( p > 0.05), KD2 diperoleh p = 0.141 ( p > 0.05), dan KD3 diperoleh p = 0.301 ( p > 0.05). Sedangkan gabungan dari KD1, KD2 dan KD3 diperoleh p = 0.070 ( p > 0.05).dapat disimpulkan bahwa data kelompok siswa yang mengguna-kan metode Group Invesigation (GI) dan data kelompok siswa yang menggu-nakan metode Student Team Achievement Division (STAD) memiliki “varians yang homogen”. Demikan pula data siswa pada kelompok siswa dengan jenis gaya belajar auditori, visual, dan kinestetik memiliki “varians yang homogen”.
c. Uji ANAVA dilakukan setelah uji persyaratan terpenuhi. Dari hasil uji kesama-an beberapa rataan menggunakan Analisis Varians (ANAVA).
1. Pada sumber variansi metode KD1 diperoleh p = 0.000 (p < 0.05), KD2 di-peroleh p = 0.004 (p < 0.05), dan KD3 diperoleh p = 0.000 (p< 0.05). Se-dangkan gabungan dari KD1, KD2 dan KD3 diperoleh p = 0.000 (p < 0.05). ini berarti “ada perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran GI dengan kelompok siswa yang mengikuti pembe-lajaran STAD”.
2. Pada sumber variansi gaya belajar KD1 diperoleh p = 0.004 (p < 0.05), KD2 di-peroleh p = 0.001 ( p < 0.05), dan KD3 diperoleh p = 0.000 ( p < 0.05). Sedangkan gabungan (KD1, KD2 dan KD3) diperoleh p = 0.000 ( p < 0.05). ini berarti “ada perbedaan kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga pada siswa yang memiliki gaya belajar berbeda”.
3. Pada sumber variansi interaksi antara metode dan gaya belajar KD1 dipero-leh p = 0.091 (p > 0.05), KD2 diperoleh p = 0.000 ( p < 0.05), dan KD3 diperoleh p = 0.002( p < 0.05). Sedangkan gabungan dari KD1, KD2 dan KD3 diperoleh p = 0.000 ( p < 0.05). ini berarti pada KD1“tidak ada interaksi antara metode pembelajaran yang digunakan dengan gaya belajar siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga”. Sedangkan pada KD2, KD3 dan KD gabungan “ada interaksi antara metode pembelajaran yang digunakan dengan gaya belajar siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga”.

PEMBAHASAN
A. Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri
Berdasarkan hasil penelitian kemampuan siswa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar berbeda-beda. Kemampuan pemecahan masalah geometri yang dimiliki siswa merupakan skor yang didapat dari tes kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar, dimana penilaiannya difo-kuskan pada prosedur penilaian. Kelompok siswa yang menggunakan pembelaja-ran Group Invesigation (GI) memiliki kemampuan pemecahan masalah geometri berbeda dengan kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah geometri mengalami peningkatan dari KD1, KD2 sampai KD3. Peningkatan ini terjadi baik pada kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran Group Invesigation (GI) ataupun
Student Team Achievement Division (STAD). Hal ini dapat dilihat pada gambar histogram berikut:


B. Pengaruh Metode Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Hasil penelitian pada KD1, KD2, dan KD3 telah menunjukan bahwa ada perbedaan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran GI dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran STAD. Kelompok siswa yang menggunakan pem-belajaran Group Invesigation (GI) memiliki kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar lebih baik dari kelompok siswa yang mengguna-kan pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Hal ini dapat terlihat dalam gambar dibawah ini:
Pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Group Investigation (GI), lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara berkelompok dalam menyelidiki, menemukan dan memecahkan masalah. Dengan demikian pe-mahaman siswa pada suatu konsep akan lebih baik. Hal ini disebabkan pada pem-belajaran Group Investigation (GI) merupakan salah satu bentuk model pembela-jaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran geometri dimensi tiga sisi datar yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dalam materi ini ada-lah media pembelajaran yang berupa benda-benda bangun ruang sisi datar kubus, balok, prisma dan limas. Dalam pembelajaran guru berperan sebagai faslitator ya-ng mengarahkan proses yang terjadi dalam kelompok (membantu siswa merumus-kan rencana, melaksanakan, mengelola kelompok). Ia berfungsi sebagai pembim-bing akademik

Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa un-tuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketram-pilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk me-numbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Siswa mencatat atau merekam fakta, melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya dengan tujuan memperoleh jawaban atas permasalahan yang dihadapi.

Kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran Student Team Achieve-ment Division (STAD) memiliki kemampuan pemcahan masalah lebih rendah ka-rena pada pembelajaran ini guru sudah memberi penjelasan tentang materi yang diajarkan pada awal pembelajaran, sehingga ketika siswa bekerja kelompok guru hanya sebagai pemantau kegiatan pembelajaran tapi tidk sebagai fasilitator seperti pada pembelajaran Group Investigation (GI). Siswa tidak menemukan secara langsung untuk menyelesaikan masalah geomettri dimensi tiga sehingga siswa ti-dak memiliki ingatan dan konsep materi geometri dimensi tiga sisi datar sekuat pembelajaran Group Investigation (GI). Disamping itu pada pembelajaaran Stu-dent Team Achieve-ment Division (STAD), sebelum siswa belajar dalam kelom-pok, dilakukan tahap penyajian materi terlebih dahulu oleh guru. Setelah tahap penyajian materi barulah siswa belajar dalam kelompok dengan bantuan lembar kerja atau lembar kegiatan siswa (LKS) yang telah disiapkan oleh guru. Dengan demikian keterlibatan siswa dalam pembelajaran pada Group Investigation (GI) lebih baik dibandingkan dengan Student Team Achieve-ment Division (STAD).

C. Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah.
Dari hasil penelitian kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dipen-garuhi oleh jenis gaya belajar siswa. Hal ini ditunjukan bahwa kemampuan peme-cahan masalah siswa yang memiliki jenis gaya belajar auditori berbeda dengan siswa yang memiliki jenis gaya belajar visual maupun siswa yang memiliki jenis gaya belajar kinestetik. Hasil kemampuan setiap siswa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar baik yang memiliki jenis gaya belajar auditori, siswa yang memiliki jenis gaya beajar visual ataupun siswa yang memiliki jenis gaya belajar kinestetik menunjukan peningkatan mulai dari KD1, KD2 sampai KD3. Namun peningkatan setiap siswa berbeda untuk setiap jenis gaya belajar yang dimiliki siswa tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa “ada perbedaan kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga pada siswa yang memiliki gaya belajar berbeda”. Lihat tabel berikut:

Pada kompetensi dasar satu (KD1), pada pembelajaran Group Investigation (GI) ataupun Student Team Achieve-ment Division (STAD), siswa yang memiliki jenis gaya belajar auditori mempu-nyai kemampuan pemecahan masalah lebih baik. Hal ini disebabkan pada pembe-lajaran kompetensi dasar satu siswa baru pertama kali mengenal pembelajaran Group Investigation (GI) ataupun Student Team Achieve-ment Division (STAD). Pada pertama kali pembelajaran guru masih banyak memberi penjelasan baik pada kelompok GI ataupun STAD sehingga pada pertama kali pembelajaran siswa dengan jenis gaya belajar lebih diutungkan dari pada jenis gaya belajar visual ataupun kinestetik. Siswa dengan jenis gaya belajar menikmati saat-saat mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang lain. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagi alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Pada kompetensi dasar dua (KD2) siswa yang memi-liki jenis gaya belajar visual mempunyai kemampuan pemecahan masalah lebih baik. Pada kompetensi dasar tiga (KD3) siswa yang memiliki jenis gaya belajar visual juga mempunyai kemampuan pemecahan masalah lebih baik. Namun seca-ra keseluruhan hasil ANAVA gabungan dari KD1, KD2, dan KD3, kelompok sis-wa yang menggunakan pembelajaraan Group Investigation (GI) ataupun Student Team Achievement Division (STAD), siswa dengan jenis gaya belajar visual me-miliki kemampuan pemecahan masalah lebih baik bila dibandingkan dengan siswa dengan jenis gaya belajar auditori ataupun siswa dengan jenis gaya belajar kineste-tik.
Siswa yang memiliki jenis gaya belajar visual mempunyai kemampuan pe-mecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki jenis gaya belajar auditori ataupun siswa yang memi-liki jenis gaya belajar kinestetik. Walaupun perbedannya tidak besar, namun ditinjau dari skor mean siswa dengan jenis gaya belajar visual Nampak lebih menonjol. Hal ini disebabkan pada pembelajaran ini siswa yang memiliki jenis gaya belajar visual lebih banyak diuntungka bila ditinjau dari metode pembelajarannya ataupun media pembelajaran yang mendukung bahan ajar. Adapun keuntungan tersebut antara lain:
1. metode pengajaran yang digunakan guru pada pmbelajaran geometri menitikberatkan pada media bangun ruang sisidatar (kubus, balok, prisma, dan limas).
2. kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual bangun ruang dimensi tiga sisi datar untuk mengetahui atau memahami terpenuhi dengan adanya media bangun ruang kubus, balok, prisma dan limas.
3. Jenis gaya blajar visual memiliki memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, menggunakan beragam bentuk bangun ruang sisi datar ( ku-bus, balok, prisma, dan limas) untuk menyampaikan informasi atau materi pe-lajaran.
4. Siswa dengan gaya belajar visual lebih suka memproses informasi melalui si-mulasi visual karena kekuatan berada pada apa yang bisa mereka lihat.


Dalam mempelajari geometri, anak perlu melakukan penyelidikan, dan mengeksplorasi objek-objek dan benda-benda fisik lainnya dalam kehidupan se-hari-hari. Latihan-latihan yang menuntut siswa untuk memvisualisasikan, meng-gambarkan, dan membandingkan bentuk-bentuk dalam berbagai posisi akan dapat membantu diri siswa yang memiliki gaya belajar visual untuk memahami geo-metri. Dengan demikian materi pembelajaran geometri sangat mendukung bagi siswa yang mempunyai gaya belajar visual.

D. Interaksi Antara Metode dengan Gaya Belajar Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah.
Dari hasil penelitian pada pembelajaran kompetensi dasar satu menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara metode pembelajaran yang digunakan dengan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri. Hasil ANAVA pembelajaran kompetensi dasar dua dan kompetensi dasar tiga hasil penelitian menunjukkan ada interaksi antara metode pembelajaran yang digunakan dengan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri. Karena dalam penelitian KD1 berbeda dengan hasil penelitian KD2 dan KD3, maka peneliti mengadakan penelitian secara keseluruhan yaitu meneliti hasil kemampuan siswa dalam meme-cahkan masalah geomeri dengan menjumlahkan hasil kemampuan siswa dalam pemecahan masalah mulai dari KD1, KD2, dan KD3. Hasil ANAVA gabungan KD1, KD2, dan KD3 diperoleh kesim-pulan bahwa ”ada interaksi antara metode yang digunakan dengan gaya belajar terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri”.
Berdasarkan penelitian metode mengajar jelas erat hubungannya dengan ga-ya belajar peserta didik, karena dalam proses belajar mengajar yang baik adalah apabila terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Untuk itu maka pendidik harus dapat menciptakan situasi yang nyaman, membangkitkan semangat belajar, menggairahkan dan membuat siswa antusias untuk belajar. Sehingga tuju-an pembelajaran tercapai. Guru harus mempererhatikan gaya belajar terbanyak da-ri siswa yang kita ajar. Pembelajar akan dapat belajar dengan baik dan hasil bela-jarnya baik, apabila guru mengerti gaya belajar siswanya. Hal tersebut memudah-kan pembelajar dapat menerapkan pembelajaran dengan mudah dan tepat. Oleh karena itu pendidik disamping menguasai beberapa metode mengajar, harus tahu juga gaya belajar para siswanya. Supaya sinkron antara metode mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik. Artinya metode yang digunakan dalam megajar telah disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik.
Dalam penelitian ini metode pembelajaran kooperatif sangat cocok dengan bahan ajar geometi dimensi tiga sisi datar. Ketika diadakan penelitian untuk ke-lompok yang menggunaan pembelajaran Group Investigation (GI) dapat kita ke-tahui dengan melihat skor mean siswa yang memiiki gaya belajar visual memiliki kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar lebih baik dari pada siswa yang memiliki jenis gaya belajar auditoria atau siswa yang memiliki jenis gaya beajar kinestetik. Pada kelompok siswa yang menggunakan metode pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD), dapat kita ketahui dengan melihat skor mean siswa yang memiiki gaya belajar auditori memiliki ke-mampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar lebih baik dari pa-da siswa yang memiliki jenis gaya belajar visul atau siswa yang memiliki jenis ga-ya beajar kinestetik.
Dibawah ini peneliti juga menunjukan dengan interaksi antara metode pembelajaran dengan gaya belajar siswa dengan gambar histogram gabungan kompetensi dasar satu, kompetensi dasar dua dan kompetensi dasar tiga yang menggambarkan interaksi antara metode belajar dengan gaya belajar sebagai berikut:


PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam geometri melalui metode pembelajaran Group Invesigation (GI) ataupun siswa yang menggunakan metode pembelajaran Student Team Ac-hievement Division (STAD) pada siswa kelas VIII MTsN Plandi Jombang, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Metode pembelajaran Group Invesigation (GI) lebih baik untuk diterapkan dalam pembelajaran geometri dimensi tiga sisi datar karena dapat meningkat-kan kemampuan pemecahan masalah dibandingkan dengan metode pembela-jaran Student Team Achievement Division (STAD).
2. Gaya belajar siswa yang berbeda-beda ( auditori, visual dan kinestetik ) mempunyai pengaruh terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar.
3. Interaksi metode pembelajaran (GI dan STAD) dan gaya belajar siswa ( audi-tori, visual dan kinestetik ) berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah geometri dimensi tiga sisi datar. Metode pembelajaran Group Inves-tigation (GI) sangat bagus untuk siswa jenis gaya belajar visual. Metode pem-belajaran Student Team Achievement Division (STAD) sangat bagus untuk siswa dengan jenis belajar auditori.

B. Saran
Beberapa saran atau rekomendasi yang dapat diajukan berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru, penggunaan metode pembelajaran kooperatif khususnya metode Group Invesigation (GI) dalam pembelajaran geometri perlu dijadikan model alternatif dalam rangka meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam geometri dimensi tiga sisi datar. Karena dengan menggunakan pembe-lajaran kooperatif metode Group Invesigation (GI), siswa dapat terlibat secara aktif dan dapat menimbulkan minat serta motivasi belajar yang baik, sehingga hasil belajar dapat diharapkan lebih baik pula.
2. Pembelajaran menggunakan metode Group Invesigation (GI) dapat dipan-dang sebagai metode penemuan atau pemecahan masalah yang dilaksanakan secara berkelompok. Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model investigasi kelompok lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk ter-libat secara berkelompok dalam menyelidiki, menemukan dan memecahkan masalah. Dalam pelaksanaannya guru harus selalu memonitor dan siap mem-bimbing atau memberi petunjuk, agar kegiatan dan aktivitas siswa dapat se-suai dengan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai.
3. Jumlah siswa yang cukup banyak dalam setiap kelas, merupakan hambatan atau kendala dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif khususnya menggu-nakan metode Group Invesigation (GI). Agar interaksi antar siswa dalam ke-lompok dapat berjalan dengan baik, disarankan jumlah siswa pada tiap ke-lompok tidak lebih dari 5 orang siswa.
4. Dalam pembelajaran diharapkan pengajar tidak mengabaikan jenis gaya bela-jar siswa. Karena gaya belajar mempunyai peranan penting unruk menentu-kan metode pembelajaran yang tepat untuk keberhasilan proses belajar me-ngajar.
5. Gaya belajar sangat mempengaruhi hasil belajar, untuk itu disarankan agar sebelum melakukan suatu pengajaran diupayakan agar lebih dahulu menga-dakan tes awal dalam menentukan gaya belajar mahasiswa agar pembelajar dalam pembelajaran dapat menyesuaikan dengan gaya belajar pebelajar. se-hingga dapat memberikan peluang yang besar baginya memperoleh hasil be-lajar yang sebaik-baiknya.
6. Bagi pelajar yang memiliki gaya belajar visual sebaikanya pada materi geo-metri dimensi tiga, pengajar menggunakan metode GI karena dengan metode ini siswa visual dapat memvisualisasikan, menggambarkan, dan memban-dingkan bentuk-bentuk dalam berbagai posisi akan dapat membantu diri sis-wa yang memiliki gaya belajar visual untuk memahami geometri
7. Bagi pelajar yang memiliki gaya belajar Auditori pada materi geometri di-mensi tiga menggunakan metode pembelajaran STAD, karena pada metode pembelajaran ini siswa auditori diuntungkan pada penyampaian materi yang disampaikan pengajar diawal pembelajaran.
8. Pengajar harus bisa menyesuaikan antara metode pembelajaran dengan gaya belajar, karena metode mengajar jelas erat hubungannya dengan gaya belajar peserta didik, karena dalam proses belajar mengajar yang baik adalah apabila terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik.


DAFTAR PUSTAKA

Prasetyawati, Wuri. 2004. Membantu Anak Menemukan Gaya Belajar yang Tepat,
http://members.shaw.ca/priscillatheroux/styles.html. diakses 5 Maret 2010

Ali, Muhammad. 1987. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo

Depdiknas.2003.Kurikulum Berbasisi Kompetensi.Jakarta

Mumun Syaban.2006. Menumbuhkembangkan Daya Matematis Siswa.
http://educare.e.fkipunia.net. didownload 23 April 2010

Suherman, Erman. 2003. Strategi Pembelajaran Kontemporer. Bandung: Univer-sitas Pendidikan Indonesia

Ibrahim, Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Setiyaningsig, Hesti. 2009. Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Pembelajaran Matematika semarang: Universitas Negeri Semarang.

Astuty. 2009. Artikel Teori Konstruktivisme Pendukung Pmbelajaran Kooperatif.

Al. Krismanto. (2001). Belajar Secara Kooperatif Sebagai Salah Satu Pembelaja-ran Aktif. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG matemati-ka.

Retnowati,Anik. 2009. Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe GI. Skripsi tidak diterbitkan semarang: Universitas Negeri Semarang.

Slavin, Robert. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media

Artikel, 22 November, 2009. Pendidikan STAD,
http://xpresiriau.com

(Sumber http://xpresiriau.com/artikel-tulisan-pendidikan/apa-dan-mengapa-student-teams-achievement-division-stad/ diakses 8 April 2010)

(Sumber
http://dianrafika.blogspot.com/2009/12/perbandingan-gaya-belajar-siswa.html diakses 18 April 2010)

(Sumber
www. member.shaw.com, 2004 diakses 18 April 2010)

Suwarkono.2004. Makalah yang berjudul ”Penilaian Pembelajaran Matematika Pada Kurikulum 2004” .LPMP DKI Jakarta

Suprapto. 2004. Tesis. Pengaruh Penggunaan Metode Pemecahan Masalah Topik Ku-bus dan Balok Terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kemampuan Kognitif pada Siswa Kelas 1 SLTP N 7 Klaten.

Mumun Syaban.2008. Pemecahan Masalah dalam Matematika
http://educare.e.fkipunia.net. didownload 23 April 2010

Subaktiningsih, Tri. 2007. Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe STAD. Skripsi tidak diterbitkan, semarang: Universitas Negeri Semarang.

Arizna. 2010. Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe STAD. Skripsi tidak diterbitkan, semarang: Universitas Negeri Semarang.

Santoso, Singgih. 2002. SPSS Versi 10 Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Pe-nerbit: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta

Fitriana, laila. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe GI dan STAD. Tesis tidak diterbitkan, semarang: Universitas Negeri Semarang.

(Sumber
http://ilmiah-pendidikan.blokspot.com/2009/11/Tesis pengarh-penerapan-metode, 8 Mei 2010)

Depdiknas,2006,Peraturan Mentri Pendidkan Nomor 22,23,24 Tahun 2006 tentag Stan-dar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasra dan Menengah,Jakarta: Depdiknas

Sukino, ss dan Simangunsong Wilson: 2007, Matematika SMP kelas VIII, Jakarta Er-langga.

Al. Krismanto. (2001). Belajar Secara Kooperatif Sebagai Salah Satu Pembelaja-ran Aktif. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika, Yogyakarta: PPPG matemati-ka.

(Sumber
www.e-dukasi.net/.../mp_334/materi2.html diakses 8 Mei 2010)

(sumber
http://ilmiah-pendidikan.blogspot.com/2009/11/pengaruh-penggunaan-media-interaktif.html diakses 8 Mei 2010)

( sumber
http://www.scribd.com/doc/24886912/Macam-Strategi-Belajar-Mengajar diakses 20 Juni 2010)

( sumber
http://poetoewarock.blogspot.com/2009/09/memahami-gaya-belajar-agar-makin-pintar.html diakses 20 Juni 2010)

(sumber
http://pascasarjana-stiami.ac.id/2009/04/macam-macam-variabel-penelitian/ diakses 27 Juni 2010)

Mutadi.2010.Problem Solving Mathematics, Belajar lewat Melakukan bukan Menghafalkan,
http://mutadi.wordpress.com diakses 27 Mei 2010

Adrian. 2004. Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar. Pendidikan Network,
http://re-searchengines.com/art05-65.html diakses 27 Mei 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar